Seringkali kita mendengar orang di sekitar kita berkata “Aku sedang berpikir nih. Jangan ganggu.” Atau “Kamu gak mikir ta? Kok sampek bodoh banget gitu.” Hahaha…lucu juga contoh yang saya ambil. Now, focus on the theme. Berpikir. Apa itu berpikir? Ini beberapa pendapat dari beberapa ahli.
• berpikir adalah sebuah representasi simbol dari beberapa peristiwa atau item (Khodijah, 2006:117)
• Drever (dalam Walgito, 1997 dikutip Khodijah, 2006:117) berpikir adalah melatih ide-ide dengan cara yang tepat dan seksama yang dimulai dengan adanya masalah.
• Solso (1998 dalam Khodijah, 2006:117) berpikir adalah sebuah proses dimana representasi mental baru dibentuk melalui transformasi informasi dengan interaksi yang komplek atribut-atribut mental seperti penilaian, abstraksi, logika, imajinasi, dan pemecahan masalah.
Terlepas dari pendapat ahli di atas, saya memliki definisi berpikir menurut saya. Tentunya, masih dalam konsep yang sama dengan pendapat para ahli. Tiap kita berpikir, pasti ada masalah yang kita pikirkan dan kita berusaha mencari jalan keluarnya. Nah, dari sini, masalah menjadi obyek mutlak dalam proses berpikir. Kemudian jalan keluar adalah hasil dari berpikir. Untuk berpikir, kita membutuhkan organ yang mampiu merekam data dan menghubungkannya secara tepat lalu mengolahnya menjadi informasi yang berguna. Organ tersebut adalah otak. Kemudian, kita berpikir pasti dalam keadaan sadar. Sehingga ketika kita tidak sadar (tertidur ataupun pingsan) dan otak kita masih bekerja, kita tidak bisa disebut sedang berpikir. Kesimpulannya, berpikir adalah proses yang dilakukan otak manusia secara sadar untuk memecahkan masalah.
Tiga Metode berpikir yang berkembang di masyarakat
Umumnya, ada tiga metode berpikir yang berkembang di masyarakat. Di sini saya tidak menjelaskan definisinya. Saya akan memberi contoh. Untuk definisi, saya serahkan kepada pembaca untuk mendefinisikan sendiri (agar Anda berpikir).
1. Berpikir Takhayul
Berpikir takhayul pada dasarnya sama dengan tidak berpikir. Contoh berpikir takhayul seperti kasus berikut: Suatu saat di suatu desa terjadi gagal panen. Karena masih berpikir tahayul, warga desa mengira bahwa sesajen yang diberikan ke Dewi Sri kurang banyak sehingga Dewi Sri marah. Berpikir seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah. Salah-salah malah menimbulkan masalah.
2. Berpikir Sederhana
Berpikir sederhana lebih bisa diterima daripada berpikir takhayul. Data sudah ada tetapi proses pengolahannya masih perlu ditanyakan. Contohnya, Reynaldo hari ini sangat lapar. Dia pergi ke warung untuk membeli makanan dan minuman. Karena masih lapar, dia membeli lagi dan akhirnya kenyang. Keeseokan harinya, di membeli sepuluh bungkus nasi dan sepuluh bungkus minuman. Pikirnya, dia akan memakan semuanya agar tidak lapar hingga keesokan harinya. Anda pasti tahu kan apa yang akan terjadi? Itu sebuah contoh berpikir sederhana.
3. Berpikir Ilmiah
Bagaimana berpikir ilmiah? Hmm..seperti ini contohnya. Suatu ketika Vega sakit kepala. Anehnya, kepala yang sakit hanya di bagian tertentu dan hampir membuatnya pingsan. Namun, dia tidak membeli obat bebas di warung. Dia memutuskan untuk pergi ke dokter karena ini bukan sakit kepala biasa. Setelah beberapa sentuhan, Dokter mengatakan bahwa Vega terserang vertigo. Untung saja Vega tidak membeli sembarang obat di warung. Dia melakukan analisa yang tepat untuk masalahnya. Andai saja dia membeli obat sakit kepala di warung, bisa jadi sakitnya akan semakin parah.
Nah, sekarang kita sudah tahu bagaimana metode berpikir yang benar. Sudah sepatutnya kita mulai mengimplementasikan metode yang benar untuk memecahkan masalah. Niscaya, apabila kita menggunakan metode yang benar, maka hasil yang kita dapat adalah hasil yang benar pula
Taken From : Sumber
0 komentar:
Posting Komentar